Pages

Rabu, 25 April 2012

Perhatikan anakmu, [jangan] perhatikan anak orang lain….!!!!



anak seorang  pendidik
tapi tak terdidik
Beberapa tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2008 saya bersama rombongan scooter boyolali mengikuti events kumpul-kumpul bareng di Salatiga. Events berkumpulnya para scooteris dari berbagai club dan berbagai daerah Indonesia khususnya di Jawa Tengah. Events ini juga disertai perlombaan modifikasi scooter, original scooter, ekstrim scooter dan ada pernak pernik yang “berbau” scooter.
Kami tiba di Salatiga malam hari sekitar jam 22.00, sok kenal sok akrab aja sama scooteris dari daerah lain. Saya melihat seorang scooteris dengan penampilan yang acak-acakan, tindik di bibir dan berjalan sempoyongan berbau alkohol ikut  berjoget di depan panggung dengan diiringi musik Reggea. Mengisyaratkan bahwa dia sedang mabuk berat karena alkohol. Setelah acara musik berkahir sekitar jam 12 malam, kemudian kami mencari tempat untuk istirahat, kami memilih tempat di sudut stadion Salatiga untuk beristirahat, gelar matras siap melepas lelah. Tak lama kemudian pemuda yang saya lihat tadi berada di sebelah kami dan langsung terkapar karena sudah mabuk berat. Ia dipapah oleh temannya yang kelihatanya masih segar [tidak mabuk], kemudian mereka beristirahat dan mengobrol bersama kami.
Sampai obrolan kami membicarakan tentang pemuda mabuk yang tadi saya lihat. Temannya mengatakan kalau sebenarnya ibu pemuda tadi adalah seorang guru. Saya sempat kaget ketika mendengar nya, anak seorang guru??. Kemudian saya bertanya, “Anak guru kok mendeman ngene mas?” [anak seorang guru kok mabuk gini tho?]. Temannya tadi ternyata adalah tetangganya, dia menceritakan tentang keluarga pemuda tadi. Bapaknya seorang pengusaha sedangkan ibunya adalah seorang guru di sebuah SMA favorit.
Bapaknya berangkat pagi pulang malam dan hal itu sudah berlangsung sejak si pemuda tadi masih kanak-kanak. Sedangkan ibunya sebagai seorang guru teladan, dia sering kali pulang sore menjelang malam. Sementara bapak yang seorang pengusaha sudah tidak sempat lagi mengurusi anaknya, tidak ada waktu untuk melihat perkembangan anaknya. Si ibu, mempersiapkan pendidikan untuk anak orang lain karena tuntutan pekerjaan sampai pada titik dimana curahan hati dan pendidikan untuk buah hati mereka terabaikan. Anaknya lebih dekat dengan pembantu, tetangga dan teman-teman komunitasnya.
Koreksi buat para orang tua, khususnya yang menjadi seorang guru. Kita menjadi guru bukan hanya disekolah saja namun dimanapun kita menjadi guru. Di masyarakat, di rumah dan dimanapun hendaknya kita ingat bahwa kita adalah seorang guru [digugu lan ditiru]. Paling tidak profesi sebagai guru bisa menjadi control terhadap tingkah laku kita.
Guru merupakan profesi yang cukup hebat, mendidik putra putri bangsa menjadi orang yang bermanfaat untuk diri sendiri dan masyarakat. Para guru memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan yang maksimal kepada murid-muridnya. Terutama menjelang Ujian Nasional, para guru memberikan curahan yang luar biasa kepada murid-murid mereka, ada jam tambahan, motivasi juga rekreasi….hehe!!!!
Sebagai orang tua, apapun profesinya mau pedagang, sopir, petani, guru, dosen maupun professor kewajiban utama adalah mendidik anak mereka. Begitu halnya dengan guru, kewajiban utama mereka adalah mendidik anak kandung bukan anak orang lain yang dititipkan di sebuah lembaga yang bernama SEKOLAH. Banyak orang tua yang lalai terhadap kewajiban yang utama yaitu mendidik anak mereka. Orang tua merasa sudah melakukan kewajibanya jika sudah bisa mencukupi kebutuhan anak mereka secara fisik, bukan psikologis. Mereka merasa sudah melakukan kewajiban jika sudah memberi anak fasilitas yang memadai bahkan melebihi kebutuhannya.
Ada seorang guru disalah satu sekolah dasar yang memberikan les privat kepada beberapa muridnya setelah pulang sekolah, tapi justru anaknya sendiri dimasukkan ke bimbingan belajar. Pertanyaan saya adalah, Kenapa dia tidak memberikan privat kepada anaknya? Kenapa dia tidak mendampingi anaknya dalam belajar? Kenapa dia justru memasukkan anaknya kedalam bimbel? Padahal ia sendiri memberikan les privat kepada anak orang lain. Bukankah ketika ia bisa mengajari dan mendampingi anaknya dalam belajar akan terbentuk empati, kasih sayang dan saling pengertian diantara orang tua dan anak? Bukankah dengan belajar bersama anaknya ia akan mendapatkan waktu yang lebih lama untuk bersama orang yang ia cintai? Bukankan ketika belajar bersama ia akan tahu apa yang diinginkan anaknya dan anak akan merasa di sayangi dan diperhatikan?
Sedikit pelajaran dari seorang Scooteris dari events scooter di Salatiga. Kini saya sudah memiliki seorang putra dan bekerja sebagai sekolah dasar full day, semoga saya bisa menjadi seorang ayah yang mendidik anak sendiri bukan hanya mendidik anak orang lain. Semoga saya selalu memiliki waktu untuk anak saya melebihi waktu yang saya berikan untuk anak orang lain ketika di sekolah….Ingatkan Abi nak ketika waktumu bersama abi terkurangi!. Ingatkan Abi nak, ketika kamu merasa kasih sayang abi terbagi dengan “anak orang lain”.

0 comments:

Poskan Komentar

" knowing is not enough, we must apply "
" willing is not enough, we must do "