Rabu, 18 April 2012

Bermainlah kamu nak….!!!! (terinspirasi dari anak didik yang "dipaksa" mengejar akademik)

congklak tradisional


Pada suatu hari karena ada tugas dari sekolah yang harus saya selesaikan sampai setelah sholat Asar baru selesai dan hendak pulang.  Ketika hendak sholat, saya bertemu beberapa anak didik saya di kelas 2 [kebetulan saya ditunjuk menjadi wali kelas 2] sebut saja namaya Nabil, Adit dan Ajid yang  belum dijemput oleh orang tuanya, kemudian saya tanya kepada mereka kenapa belum dijemput. Kemudian mereka menjawab kalau ternyata mau les privat dengan salah satu ustadz/ guru di sekolah saya. Saya berfikir mereka belajar sudah dari jam 7 sampai jam 2 dan jam segini masih mau les privat.
     Kemudian saya bertanya lagi kepada mereka, “trus kalian nanti pulangnya jam berapa?”. Jawaban mereka cukup membuat saya sedikit heran, “ntar sampai jam lima”  begitu jawab mereka. Kemudian saya bertanya lebih lanjut tiap hari apa saja mereka pulang jam 5. Ternyata mereka pulang jam 5 dalam seminggu 3 kali yaitu hari Selasa, Rabu dan Kamis.
                Yang ada dalam benak saya saat itu adalah, kapan mereka bermain dan menikmati masa kanak-kanak?. Banyak orang tua yang memasukkan anak mereka ke bimbingan belajar atau mendatangkan guru privat untuk menambah jam belajar. Menurut saya hal yang terjadi pada anak-anak kelas dua cukup ‘ekstrem’ dari jam 07.00 samapai jam 17.00 mereka bergelut dengan pelajaran. Sering kali kita merasa sudah melakukan hal yang benar dan baik buat anak kita, akan tetapi benarkah itu yang terbaik untuk anak kita? Apa lagi masa kanak-kanak adalah masa untuk bermain. Ada sedikit pertanyaan yang mengganjal dalam hati kecil saya “Bermain Sambil Belajar Atau Belajar Sambil Bermain?”
                Usia anak memang disebut sebagai Golden Age , banyak yang beranggapan masa inilah anak akan belajar banyak hal. Maka mereka harus belajar segala sesuatu yang ada di sekitarnya, belajar sambil bermain. Ada istilah fun learning yang sekarang baru gencar-gencarnya digalakkan dalam pendidikan kita seperti metode PAKEM/PAIKEM .
                Kalau boleh berpendapat, bermain adalah kebutuhan pokok anak-anak. Ingat ketika masih kecil?. Bermain merupakan hal yang sangat kita tunggu-tunggu baik itu dengan alat permainan maupun dengan teman-teman kita. Ada sebuah curhatan dari seorang anak yang berisi tentang keinginanya bermain dalam buku yang berjudul Ayah Ada Ayah Tiada karya Irwan Rinaldi,
Pemulung Dan Anaknya
Seorang ayah pemulung
Seorang anak pemulung
Aku lihat sedang bercanda
Aku lihat sedang tertawa
Seorang ayah pemulung
Seorang anak pemulung
Kejar-kejaran lompat-lompatan
Guling-gulingan tonjok-tonjokan
Aku malas ke sekolah
Aku ingin melihat ini saja
Aku malas ke sekolah
Akau mau jadi anak pemulung saja
Ungkapan seorang anak yang sangat ingin bermain dan intropeksi para orang tua yang seharusnya “mau” diajak anaknya untuk bermain bersama. Terkadang kita sebagai orang tua selalu menginginkan anak menjadi pandai secara akademik, kecerdasaan yang lain sering kali terabaikan. Saatnya kita untuk memberikan ruang dan waktu untuk bermain bagi anak kita.

                Anak-anak akan lebih bahagia jika mereka ada teman yang bisa diajak untuk bermain. Karena segala sesuatu akan terasa asyik jika dikerjakan secra bersama-sama. Terlebih jika kita sebagai orang tua bisa selalu mendampingi anak dalam bermain maupun belajar. Mendampingi anak bermain  memiliki manfaat yang cukup besar dalam perkembangan anak serta hubungan antara orang tua dan anak bolehlah dikatakan ada simbiosis mutualisme…hehehe. Permainan haruslah menyenangkan, disaat permainan itulah kita bisa bercanda dengan lepas tanpa beban dalam bercanda bersama mereka. Ketika anak kita beranjak dewasa dan mulai meninggalkan permainan tradisionalnya kita harus memfasilitasi mereka dengan bercanda bersama dalam berbagai kesempatan.
                Sore hari merupakan waktu yang ditunggu-tunggu untuk anak-anak karena di waktu itu mereka berkumpul di tanah lapang untuk saling bersosialisasi melalui media yang bernama “bermain”. Banyak orang tua yang terlalu protektif kepada anaknya, jadi anak mereka boleh bermain dengan persyaratan dan larangan nggak boleh ini lah, nggak boleh itu lah…..biarkan anak kita berekspresi selama tidak melanggar norma dan tata krama Islam biarkan ia bermain dan berekspresi. Kembali Irwan Rinaldi dalam buku yang sama mendapatkan sebuah pengakuan atau curahan hati dari seorang anak.
BOLEH MAIN TAPI….
Sorepun tiba
Waktu yang ditunggu seluruh anak dunia
Bermain bebas apa yang kita suka
Di tanah lapang atau dimana saja

Satu demi satu kami keluar rumah seperti ayam saja
Kepakan sayap berciap-ciap seperti orang gila
Aga yang melompat, berlari, menari-nari saking senangnya
Lupa ayah bunda lupa dunia

Tapi alangkah malang nasib temanku
Dia hanya bisa duduk di depan pintu

Kenapa kau hanya duduk di depan pintu?
Kenapa kau kok menangis sendu, tanyaku?
Karena aku malas untuk pergi
Karena aku boleh bermain tapi pakai tapi….
Pulang sekolah. Dulu, duluuuu sekali puluhan tahun yang lalu ketika bel berbunyi anak-anak bersorak sorai gembira. Mereka bersorak sorai menyongsong waktu bebas bermain. Namun kini sebagian besar anak-anak hanya mampu sejenak bersorak sorai. Kenapa?? Karena seabrek kegiatan akademis telah menunggu mereka. Les ini kursus itu. Pelajaran tambahan ini pengayaan itu. Bahkan semua mereka lalui sampai malam menjelang, ketika liburan pun masih banyak tugas akademis yang harus di selesaikan di rumah lembar kerja ini lembar kerja itu..
Kapan mereka bermain?entahlah. Kalaupun boleh bermain, pasti ada syarat-syaratnya yang cenderung sepihak dari orang dewasa. Boleh bermain asalkan jangan kotor. Boleh main asalkan……dan boleh main aasalkan….
Belajarlah bijak wahai kita orang tua…!!!!
                Ketika anak kita bermain, banyak manfaat yang bisa diambil dari berbagai permainan yang dilakukan, khususnya permainan tradisional. Beberapa diantaranya adalah manfaat secara sosial, kerjasama, kemandirian dan refreshing. Sebagai contoh mainan gobak sodor, permainan merupakan permainan kelompok. Dimana tiap tim harus bekerja sama untuk mencapai finish yang dijaga oleh lawan mainnya. Bermain congklak / dakon, dalam permainan adr segi sosial anak belajar untuk berbagi dengan sesama karena mereka juga harus mengisi lubang lawan dengan biji congklak. Selain itu dalam permainan ini juga diperlukan perhitungan untuk memainkan biji congklak agar bisa menang. Selain itu mereka juga akan belajar berhitung, karena diakhir permainan mereka harus menghitung jumlah biji congklak yang didapatkan. Masih banyak lagi manfaat yang dapat diambil dari aktivitas bermain anak.
                Berikut beberapa teori tentang pentingnya dan manfaat bermain untuk anak-anak. Khusus pada anak usia sekolah dasar Rogers & Sawyer’s (dalam New  Policy Institute, 2002) menganalisis tentang arti penting bermain bagi anak usia  sekolah dasar yaitu memotivasi anak untuk berpartisipasi dalam masyarakat.  Selanjutnya mereka juga menulis bahwa ada beberapa nilai penting dalam  bermain yang membantu perkembangan kognitif anak, yaitu:
  1.  Bermain merupakan bentuk aktif dalam belajar yang meliputi pikiran, badan, dan semangat.
  2.  Bermain menyediakan kesempatan untuk melatih ketrampilan dan fungsi-fungsi baru.
  3.  Bermain memperbolehkan anak untuk menggabungkan belajar sebelumnya
  4. Bermain memperbolehkan anak untuk menahami sikap mereka ketika bermain dan merupakan seperangkat pelajaran yang menyumbang dalam  fleksibilitas problem solving
  5.  Bermain akan mengembangkan kreativitas dan penghargaan akan estetika
  6. Bermain memungkinkan anak untuk mempelajari tentang proses belajar  meliputi keingintahuan, penemuan, dan ketekunan.
  7. Bermain mengurangi tekanan yang seringkali berhubungan dengan  pencapaian prestasi dan kebutuhan untuk belajar
  8.  Bermain menyediakan resiko yang minimum dan hukuman ketika berbuat kesalahan.

                Dalam Best Play (NPFA, 2000) disebutkan bahwa pentingnya bermain ada di sejumlah bidang kehidupan anak, yaitu:
  • Bermain mempunyai peran yang penting dalam belajar. Bermain melengkapi kegiatan sekolah anak dengan memberi kesempatan kepada anak untuk ,memahami, meresapi, dan memberi arti kepada apa yang mereka pelajari  dalam seting pendidikan formal.  Secara khusus bermain menjadi penting yaitu membantu anak untuk  memperoleh ”bukan informasi khusus tetapi mindset umum dalam pemecahan masalah”.
  • Bermain merupakan pusat dari perkembangan fisik dan kesehatan mental yang baik. Aktivitas fisik meliputi kegiatan untuk berolah raga, meningkatkan koordinasi dan keseimbangan tubuh, dan mengembangkan ketrampilan dalam pertumbuhan anak. Adapun sumbangan untuk kesehatan mental adalah membantu anak untuk membangun dan mengembangkan resiliensi (daya tahan) terhadap tekanan dalam hidup.
  • Bermain memberi kesempatan untuk menguji anak  dalam mengahadapi tantangan dan bahaya.

Seiring dengan perkembangan zaman, permainan menjadi semakin modern. Sebagai contoh permainan online semacan Point Blank, Ninja Saga dan game online laianya. Jelas permainan ini tidak dapat dilakukan secara kelompok, karena satu anak melakukan permianannya sendiri dengan memegang sebuah komputer atau laptop yang terkoneksi dengan jaringan internet. Anak pun terpacu adrenalinnya untuk menyelesaikan level-level selanjutnya. Ketika anak masuk ke level berikutnya ia akan disambut oleh seorang wanita yang menggunaka baju mini yang memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya, layaknya seseorang yang sedang memakai baju renang.
Permainan tersebut diatas memberikan dampaka negatif dari beberapa siswa ketika kami sharing tentang pengaruh game. Anak-anak rata-rata main game minimal 8 jam dalam seminggu, yang kami temui konsentrasi mereka menurun, sering melamun dan berkurangnya semangat belajar..bermain paling aman adalah permainan yang tidak ada unsur kekerasan, seks dan ketidak jujuran.
Saya pernah membaca sebuah stiker di kendaraan bermotor “SEKOLAH TERUS KAPAN DOLANE” sekolah terus kapan mainnya???  menggelitik memang, tapi setelah saya menjumpai kasus seperti anak didik saya, saya merasa ada benarnya juga kata-kata dalam stiker itu….biarkan anak kita bermain, biarkan anak kita berekspresi, dan biarkan mereka bahagia…!!!!!

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar

" knowing is not enough, we must apply "
" willing is not enough, we must do "